Moderasi beragama di platform digital bangun toleransi 2025 menjadi kunci penting dalam menjaga keharmonisan di tengah maraknya konten religius online. Berdasarkan Survei Indeks Moderasi Beragama (IMB) yang dilaksanakan Badan Moderasi Beragama dan Pengembangan Sumber Daya Manusia (BMBPSDM) Kementerian Agama RI pada September 2025, Indonesia tengah memotret tingkat moderasi beragama di berbagai kota dan kabupaten untuk menghasilkan rekomendasi kebijakan yang tepat.
Sebagai Gen Z yang menggunakan media sosial untuk 1-5 jam per hari (48 persen dari generasi ini) berdasarkan survei YouGov April-Mei 2025, kita punya peran besar dalam membangun ruang online yang lebih toleran. Dengan 60 persen pengguna media sosial di Indonesia didominasi Gen Z, generasi muda menjadi kunci utama ekosistem digital yang sehat.
Kenyataannya? Platform digital bisa jadi ruang dialog yang indah atau justru sarang perpecahan—tergantung bagaimana kita menggunakannya. Mari kita bahas tuntas bagaimana moderasi beragama di platform digital bangun toleransi 2025 dengan pendekatan faktual dan aplikatif.
Program Moderasi Beragama Indonesia: Peta Jalan 2025

Dokumen Peta Jalan Moderasi Beragama 2021–2024 menjadi bahan utama evaluasi untuk penyusunan kebijakan ke depan, sebagaimana disampaikan Kepala Badan Litbang dan Diklat Kementerian Agama RI Suyitno pada Focus Group Discussion di Jakarta, 9 Januari 2025. Kebijakan ini merujuk pada dokumen Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) yang dirumuskan Bappenas.
Moderasi beragama di platform digital bangun toleransi 2025 diperkuat melalui Peraturan Presiden Nomor 58 Tahun 2023 tentang Penguatan Moderasi Beragama yang menjadi landasan formal bagi seluruh kementerian, lembaga, dan pemerintah daerah. Kebijakan ini bukan sekadar program pemerintah, tapi gerakan nasional yang melibatkan seluruh lapisan masyarakat.
Dalam RPJPN 2025-2045 terdapat delapan misi pembangunan transformasi Indonesia, salah satunya adalah penguatan peran agama sebagai landasan spiritual, etika moral, dan modal dasar pembangunan, menurut Tim Ahli Moderasi Beragama Alissa Qotrunnada Munawaroh Wahid. Ini menandakan komitmen jangka panjang Indonesia terhadap moderasi beragama.
Dampak positif dari kebijakan tersebut dapat terukur melalui peningkatan Indeks Kerukunan Umat Beragama (KUB) yang secara konsisten menunjukkan tren membaik dari tahun 2021 hingga 2024. Peningkatan ini menggambarkan adanya pergeseran ke arah perilaku sosial yang lebih inklusif, toleran, dan saling menghargai antarumat beragama.
Pengukuran IMB 2025 memiliki tiga tujuan utama: mengukur Indeks Moderasi Beragama secara nasional, mengidentifikasi faktor-faktor yang memengaruhi nilai IMB, dan memberikan rekomendasi kebijakan yang tepat bagi pemerintah dalam penguatan moderasi beragama.
Fenomena Digital: Gen Z dan Konten Religius

Data terkini menunjukkan transformasi besar dalam konsumsi konten keagamaan di platform digital. YouTube menempati posisi teratas sebagai platform paling populer di Indonesia dengan 143 juta pengguna aktif, disusul TikTok dengan 108 juta pengguna aktif di posisi kedua dunia berdasarkan data DataReportal dan Statista 2024/2025.
Sebanyak 78 persen dari Gen Z aktif menggunakan YouTube dalam satu bulan terakhir, menjadikannya platform media sosial paling disukai, sementara pengguna Instagram mencapai 75 persen dan TikTok 65 persen menurut survei YouGov dengan lebih dari 1.000 responden Indonesia pada April-Mei 2025.
Pola konsumsi konten keagamaan Gen Z berubah drastis. 31% Gen Z menghabiskan 4-6 jam per hari bermain media sosial, menegaskan betapa kuatnya peran dunia digital dalam membentuk generasi muda saat ini berdasarkan survei Diginex yang bekerja sama dengan Inventure dan ivosights pada Desember 2025.
Namun, ada sisi gelap dari pesatnya pertumbuhan konten digital. Momentum akhir tahun sering kali dimanfaatkan oleh kelompok tertentu untuk menyebarkan provokasi dengan atribut agama, disinformasi hari raya, hingga sentimen eksklusivisme di ruang publik menjelang perayaan Natal 2025 dan Tahun Baru 2026.
💡 Fakta Digital: Sebanyak 143 juta identitas pengguna media sosial tercatat pada Januari 2025, mencakup 50,2% dari total populasi Indonesia (Digital 2025: Indonesia by We Are Social).
Peran Moderasi Beragama dalam Ekosistem Digital

Moderasi beragama di platform digital bangun toleransi 2025 bukan sekadar wacana. Moderasi beragama dapat dipahami sebagai sikap yang adil, mengedepankan kerja sama, dan membangun nilai-nilai kemanusiaan universal, sebagaimana disampaikan Prof. Dr. Yusuf Wibisono dalam pidato ilmiah pengukuhannya sebagai Guru Besar pada 23 April 2025.
Moderasi beragama menekankan pentingnya beragama secara seimbang dengan komitmen kebangsaan, toleransi, anti kekerasan serta penerimaan terhadap tradisi—empat pilar yang menjadi indikator moderasi beragama di Indonesia.
Alissa Qotrunnada Munawaroh Wahid dalam konferensi pers International Partnership on Religion and Sustainable Development (PaRD) Leadership Meeting 2025 di Jakarta, 3 Februari 2025 menyatakan bahwa program moderasi beragama yang digagas Kementerian Agama sejak 2019 telah memberikan dampak signifikan dalam menjaga stabilitas sosial.
Indonesia memiliki pengalaman berharga dalam mempromosikan moderasi beragama melalui program yang terintegrasi. Implementasi program moderasi beragama semakin luas dengan melibatkan seluruh kementerian, memungkinkan kebijakan berintegrasi dalam berbagai aspek pembangunan nasional.
Platform digital menjadi medan baru implementasi moderasi beragama. Dinas Pembinaan Mental TNI Angkatan Udara menyelenggarakan Forum Group Discussion (FGD) Moderasi Beragama dengan tema “Moderasi Beragama: Solusi Menangkal Radikalisme Paham Keagamaan di Era Digital” di Jakarta pada 11 November 2025, menandakan keseriusan institusi negara dalam menghadapi tantangan digital.
Tantangan Ultra-Konservatisme di Ruang Maya
Tantangan terbesar moderasi beragama di ruang digital adalah ultra-konservatisme. Tantangan utama dalam upaya moderasi beragama di Indonesia adalah ultra-konservatisme, polarisasi berbasis agama, dan ketimpangan perlakuan terhadap kelompok minoritas, dengan beberapa daerah seperti Nusa Tenggara Timur dan Sumatra Barat masih menghadapi diskriminasi akibat dominasi mayoritas.
Tantangan utama dalam implementasi moderasi beragama adalah menjaga keseimbangan antara identitas sebagai umat beragama dan sebagai warga negara Indonesia, menurut Alissa Wahid. Ada dua jenis praktik beragama: substantif inklusif yang membuka ruang interaksi dengan yang lain, dan eksklusif legal formalistik yang menganggap yang lain sebagai musuh.
Data tentang ujaran kebencian menunjukkan urgensi moderasi digital. Data pengawasan siber Bawaslu dalam Pemilu 2024 menunjukkan adanya 355 konten internet yang diduga melanggar dengan konten ujaran kebencian yang diidentifikasi sangat menonjol. Politik SARA dan hoax menjadi titik rawan paling menonjol.
Kementerian Komunikasi dan Informatika telah menangani konten mengenai ujaran Suku, Agama, Ras dan Antargolongan (SARA) sebanyak 3.640 konten sejak tahun 2018 hingga 26 April 2021, menunjukkan upaya sistematis pemerintah dalam menangani konten intoleran.
⚠️ Peringatan: Derasnya arus informasi di era digital dapat menjadi celah masuknya paham radikalisme dan intoleransi yang berpotensi memengaruhi prajurit maupun keluarganya, menurut Aspers Kasau Marsda TNI Yostariza.
Literasi Digital untuk Mencegah Intoleransi Online
Literasi digital menjadi benteng pertahanan utama melawan intoleransi. Masyarakat Indonesia belum menunjukkan etika yang baik dalam memanfaatkan media sosial, dengan ujaran kebencian dan hoax masih mewarnai isi konten yang beredar di dunia maya, menurut Holy Gloria Sijabat dari Kemenko PMK pada September 2023.
Program literasi digital terus digalakkan pemerintah. Gerakan Santun dan Tertib Bermedia Sosial melalui aksi “saring sebelum sharing” dapat mengurangi hoaks, ujaran kebencian, dan politik identitas/SARA. Literasi politik dan algoritma ruang media yang sehat dan demokratis menjadi kunci menghadapi dinamika digital.
Moderasi beragama di platform digital bangun toleransi 2025 memerlukan pemahaman mendalam tentang cara kerja platform digital. Algoritma media sosial cenderung menampilkan konten yang sejalan dengan preferensi pengguna, yang bisa mengakibatkan terbentuknya ruang gema (echo chamber), ketika pengguna hanya terpapar pada pandangan yang sama, hal ini dapat memperkuat bias dan menimbulkan konflik antara kelompok yang berbeda.
Pendidikan formal mulai mengintegrasikan literasi digital keagamaan. Implementasi nilai-nilai moderasi beragama di tingkat sekolah dasar seperti di MI Tahasus Maarif NU Pedan tahun ajaran 2024/2025 dilakukan melalui integrasi materi dalam pelajaran dan kegiatan yang menumbuhkan nasionalisme, meskipun tantangan seperti rendahnya perhatian siswa dan lemahnya kolaborasi guru masih ada.
Strategi praktis melawan hoax:
- Cek sumber: Pastikan konten berasal dari lembaga keagamaan resmi atau akun terverifikasi
- Bandingkan referensi: Gunakan minimal 3 sumber kredibel sebelum membagikan
- Gunakan tools verifikasi: Manfaatkan Google Reverse Image Search atau CekFakta.com
- Pahami konteks: Jangan hanya membaca headline, baca keseluruhan konten
Platform Digital sebagai Ruang Dialog Antaragama
Platform digital memiliki potensi besar sebagai ruang dialog antaragama yang konstruktif. Perayaan Natal menghadirkan pesan universal tentang kasih, damai, dan pengharapan yang melampaui sekat identitas dan relevan bagi kehidupan berbangsa dan bernegara, menunjukkan bagaimana momen keagamaan bisa menjadi titik temu dialog.
Moderasi beragama adalah sikap adil, seimbang, dan beradab dalam menjalankan agama masing-masing, sekaligus menghormati hak orang lain untuk beribadah sesuai dengan keyakinannya. Sikap ini menolak ekstremisme dan fanatisme sempit tanpa mengorbankan prinsip keimanan.
Organisasi lintas agama aktif memanfaatkan platform digital. Persekutuan Gereja-gereja di Indonesia (PGI), Dewan Gereja Indonesia, dan Jaringan Gusdurian baru-baru ini mendirikan gereja di daerah terpencil di Papua sebagai wujud nyata dari peran agama dalam pembangunan sosial.
Komunitas online interfaith mulai bermunculan. Penguatan Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB), Forum Pembauran Kebangsaan (FPK), dan Forum Kewaspadaan Dini (FKD) penting untuk mencegah dan menangani konflik bernuansa SARA menjelang dan saat pelaksanaan Pemilu.
Pemanfaatan media sosial untuk dialog memerlukan strategi khusus:
- Ciptakan ruang aman untuk diskusi perbedaan
- Gunakan bahasa yang inklusif dan menghormati
- Fokus pada nilai-nilai kemanusiaan universal
- Hindari generalisasi terhadap kelompok agama tertentu
- Manfaatkan storytelling untuk membangun empati
Langkah Konkret Membangun Toleransi Digital
Implementasi moderasi beragama di platform digital bangun toleransi 2025 dimulai dari tindakan individual. Pengguna internet Indonesia pada 2025 mencapai 229,4 juta jiwa dari total populasi 284,43 juta jiwa, dengan Generasi Z (25,54 persen) sebagai kelompok paling dominan berdasarkan survei APJII 2025.
TikTok menjadi platform media sosial terpopuler dengan persentase 35,17%, mengungguli YouTube (23,76%), Facebook (21,58%), Instagram (15,94%), dan X/Twitter (0,56%) berdasarkan Survei Profil Internet Indonesia 2025 yang melibatkan 8.700 responden.
Dengan dominasi Gen Z di ruang digital, tanggung jawab moderasi menjadi semakin penting. Rata-rata orang Indonesia menghabiskan waktu 1-2 jam per hari untuk scrolling media sosial, dengan 34,17% responden berada di rentang waktu tersebut.
7 Langkah Praktis Membangun Toleransi Digital:
- Follow Diversity: Ikuti akun dari berbagai perspektif keagamaan untuk memperluas wawasan dan menghindari echo chamber
- Be an Upstander: Laporkan konten intoleran menggunakan fitur report di setiap platform—kontribusi user sangat membantu AI platform belajar
- Use Inclusive Language: Hindari generalisasi seperti “semua penganut agama X…” dan ganti dengan “beberapa orang percaya…”
- Join Interfaith Communities: Bergabung dengan komunitas digital interfaith untuk dialog konstruktif
- Pause Before Posting: Manfaatkan 10 detik untuk mereview ulang konten sebelum dipublikasikan
- Educate & Share: Bagikan konten edukatif tentang toleransi dan moderasi beragama dengan cara yang menarik
- Practice Digital Wisdom: Penting memfilter informasi, memilih konten yang bermanfaat, dan berkontribusi secara positif dalam setiap interaksi online
Baca Juga Tren Neo Hijrah Gen Z 2025
Toleransi Dimulai dari Klik Kita
Moderasi beragama di platform digital bangun toleransi 2025 bukan tanggung jawab pemerintah atau tokoh agama saja—tapi kita semua. Peningkatan Indeks Kerukunan Umat Beragama yang konsisten dari 2021 hingga 2024 menggambarkan adanya pergeseran ke arah perilaku sosial yang lebih inklusif, toleran, dan saling menghargai antarumat beragama.
Sebagai generasi yang mendominasi 60 persen pengguna media sosial Indonesia, Gen Z punya kekuatan untuk mengubah narasi. Setiap share yang bijak, setiap komentar yang menghormati, setiap laporan terhadap konten kebencian—semua berkontribusi pada ekosistem digital yang lebih harmonis.
Program moderasi beragama sejak 2019 telah memberikan dampak signifikan dalam menjaga stabilitas sosial, dan kita melihat penurunan konflik berbasis agama serta meningkatnya kepuasan masyarakat terhadap upaya pemerintah dalam menjaga kerukunan.
Mari jadikan 2025 sebagai tahun dimana platform digital benar-benar menjadi ruang untuk membangun jembatan, bukan dinding. Karena pada akhirnya, toleransi bukan tentang setuju dengan semua orang—tapi tentang menghormati hak setiap orang untuk berbeda.
💬 Diskusi Terbuka:
Dari 7 langkah praktis di atas, mana yang sudah kamu terapkan? Atau punya pengalaman menarik tentang dialog lintas agama di platform digital? Share pengalamanmu di kolom komentar!
Komunitas digital yang sehat dimulai dari kontribusi kita masing-masing. Bersama kita bisa mewujudkan ruang digital Indonesia yang lebih toleran dan damai.
Referensi & Sumber Data Terverifikasi:
- Badan Moderasi Beragama dan Pengembangan Sumber Daya Manusia (BMBPSDM) Kementerian Agama RI – Survei IMB 2025
- Badan Litbang dan Diklat Kementerian Agama RI – FGD Moderasi Beragama 2025
- YouGov Surveys & Profiles – Indonesia Media Consumption Report 2025 (April-Mei 2025)
- Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet Indonesia (APJII) – Survei Profil Internet Indonesia 2025
- We Are Social & DataReportal – Digital 2025: Indonesia Report
- Diginex, Inventure & ivosights – Survei Gen Z Indonesia 2025
- Kementerian Komunikasi dan Informatika RI – Data Konten SARA 2018-2021
- Bawaslu RI – Data Pengawasan Siber Pemilu 2024
- International Partnership on Religion and Sustainable Development (PaRD) Leadership Meeting 2025
Ingin membaca lebih lanjut tentang moderasi beragama? Kunjungi Bethel Lutheran Church yang aktif mempromosikan dialog antaragama konstruktif.



